Didewasakan Keadaan
Potret Anak yang Mengemban Amanah Lebih Awal
Tidak semua anak bisa menikmati masa kecil dengan tawa riang, mainan, dan pelukan hangat keluarga. Ada sebagian dari mereka yang harus beranjak dewasa lebih cepat. Bukan karena keinginan, melainkan karena keadaan yang memaksa.
Mereka adalah potret anak-anak yang mengemban amanah lebih awal.
Anak yang seharusnya belajar mengeja huruf, justru belajar mencari nafkah.
Anak yang seharusnya dihujani kasih sayang, justru dihantam tanggung jawab yang terlalu besar.
Kita sering melihat mereka di jalanan, di pasar, atau di sudut-sudut kota. Ada yang menjual koran, ada yang mengamen, ada pula yang membantu orang tua menjaga adik-adiknya. Mereka belajar tentang arti hidup sebelum sempat memahami arti masa kecil.
Namun, dari keadaan itu tumbuhlah ketangguhan. Mereka belajar bertahan, belajar bersyukur, dan belajar berjuang. Sering kali, anak-anak seperti ini tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan penuh empati. Mereka tahu bagaimana rasanya kekurangan, sehingga kelak akan lebih menghargai setiap kelebihan.
Akan tetapi, di balik ketegaran itu, ada pertanyaan yang mengusik hati kita:
Haruskah masa kecil mereka hilang demi bertahan hidup?
Haruskah keceriaan diganti dengan beban yang terlalu besar untuk usia mereka?
Inilah panggilan bagi kita semua. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak kehilangan masa kecilnya hanya karena keadaan. Perlu ada uluran tangan, perhatian, dan sistem yang melindungi mereka. Sebab, anak-anak adalah aset masa depan bangsa. Mereka berhak tumbuh, belajar, dan bermimpi tanpa dihantui rasa lapar dan tanggung jawab yang melampaui usianya.
Anak-anak yang didewasakan keadaan memang sering menjadi sosok luar biasa di masa depan. Tapi luka kehilangan masa kecil tidak bisa begitu saja hilang. Maka, mari kita hadir sebagai penguat, bukan sekadar penonton.
Sebab sejatinya, setiap anak berhak menjadi anak-anak.
Dan biarlah kedewasaan datang ketika waktunya tiba, bukan ketika keadaan memaksanya terlalu cepat.

Komentar
Posting Komentar