Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Jeratan Digital: Ketika Pinjol dan Judol Merampas Akal Sehat

Gambar
☆Refleksi Kritis Maraknya Pinjol dan Judol☆ Indonesia sedang menghadapi darurat finansial sosial yang mengkhawatirkan. Bukan karena resesi global, melainkan karena dua musuh senyap yang menyusup melalui gawai di genggaman: pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol). Data OJK mencatat lebih dari 19 juta akun pinjol aktif di Indonesia, banyak di antaranya terjebak utang bunga tinggi. Sementara kerugian akibat judol mencapai Rp327 triliun setahun.  melibatkan pelajar, ibu rumah tangga, hingga ASN. “Banyak yang tahu itu salah, tapi rasa putus asa seringkali lebih kuat dari logika.” Di balik kemudahan teknologi, ada jebakan sunyi bernama pinjaman online dan judi online. Sekali klik, semuanya terasa ringan hingga akhirnya jiwa yang terasa berat. Tak sedikit yang kehilangan harta, nama baik, bahkan kewarasan karena berharap solusi cepat dalam tekanan ekonomi. Padahal, solusi kilat seringkali justru jalan pintas ke jurang kehancuran. 📍 Data dan Fakta Berdasarkan data Otoritas Jasa K...

Menikah di Usia Matang: Pilihan yang Penuh Kesadaran

Gambar
Aku tak menyesal menikah di usia yang bagi sebagian orang mungkin dianggap “terlambat.” Karena bagiku, cinta bukan soal cepat-cepatan. Dan pernikahan bukan garis akhir dari kegelisahan sosial bernama kapan nikah. Di usia dua puluhan akhir, ketika banyak temanku sudah mempersiapkan pesta pernikahan atau menimang anak, aku masih duduk di bangku kuliah, menyelesaikan mimpi yang tertunda karena kenyataan hidup. Tak jarang, langkah ini membuatku jadi bahan bisik-bisik. Katanya aku terlalu berani, atau mungkin… terlalu lambat. Aku diam, menahan. Tapi tak pernah merasa gagal. Karena di balik langkah pelan itu, ada tekad yang kuat: untuk menyiapkan diriku sebaik-baiknya, bukan demi siapa-siapa, tapi agar aku bisa mencintai seseorang dengan cara yang dewasa. Di usia ini, aku telah lebih jernih memahami diriku sendiri. Telah melewati badai, luka, kecewa, juga ragu. Dan dari semua itu, aku belajar:  " menikah bukan tentang mencari pelengkap, tapi tentang menjadi pribadi yang sudah utuh, aga...

Why I Have Anxiety

Gambar
☆Original Cerpen ☆ Karya: Yunia Haida Aku pernah mengira, hidupku akan selalu dikelilingi luka. Bahwa rasa takut, cemas, dan trauma akan menjadi teman selamanya. Tapi kemudian, aku bertemu cinta yang tak lari, pelukan yang tak menuntut, dan hari-hari yang tak lagi terasa menyesakkan. Ini kisah tentang sakit yang kupeluk, dan cinta yang menyembuhkannya pelan-pelan. --- Bab 1: Luka Pertama Bernama Ejekan Dari kecil, aku sudah paham rasanya jadi bahan tertawaan. Di sekolah dasar, aku dijuluki dengan panggilan aneh, pendiam, tak punya gaya. Bahkan guru pun tak jarang menyepelekan pendapatku. Aku belajar bertahan, tapi bukan karena aku kuat. Aku hanya tidak punya pilihan. Aku menyimpan semuanya sendiri. Air mataku jatuh diam-diam, di bawah bantal, di toilet sekolah, atau saat naik sepeda saat pulang sambil menunduk. Dari SD, SMP, hingga SMA, bullying terus mengikuti. Bentuknya berubah, tapi rasanya tetap sama: menusuk. --- Bab 2: Di Balik Senyum Kasir Usia 18 adalah titik jatuhku. Tubuhku l...

Matahari yang Tak Pernah Libur : Refleksi tentang anak-anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya

Gambar
Di sebuah sudut kota yang tak pernah benar-benar tidur, ada seorang anak bernama Wawan . Usianya baru sebelas tahun. Tapi siapa sangka, guratan di wajahnya menyimpan cerita yang lebih tua dari angka itu.  Sementara anak-anak seusianya mengenakan seragam, bercanda riang di ruang kelas, Wawan sudah lebih dulu memikul beban hidup menjajakan es lilin dari satu lampu merah ke lampu merah lainnya. Ia bukan anak nakal. Ia bukan pula anak yang malas sekolah. Ia hanya anak yang tidak diberi pilihan. Ayahnya telah lama berpulang akibat kecelakaan kerja di pabrik kayu. Sang ibu kini terbaring lemah karena penyakit yang tak pernah benar-benar bisa disembuhkan dengan obat warung. Di rumah kontrakan yang hampir rubuh itu, tiga adiknya yang masih kecil menunggu sesuap nasi. Dan di pundak kecil Wawan-lah, tanggung jawab itu diletakkan. terlalu cepat, terlalu berat. Sekolah menjadi kemewahan yang tak sempat ia impikan. Lembar-lembar buku pelajaran berganti dengan lembar-lembar uang receh hasil daga...

Refleksi Pejuang Garis Dua: Antara Nyinyir dan Dukungan Nyata

Gambar
☆Sebuah Tulisan Refleksi☆ Oleh : Yunia Haida Garis Dua Bukan Soal Keberuntungan, Tapi Perjuangan Menjadi pejuang garis dua bukan sekadar tentang dua garis merah pada alat uji kehamilan. Itu hanyalah simbol kecil dari perjuangan besar: rangkaian doa, pemeriksaan medis, rutinitas hormonal, hingga air mata yang jatuh tanpa suara setiap datang bulan. Di Indonesia, perjuangan itu kerap terasa lebih berat. Bukan hanya karena faktor medis, tapi juga karena lingkungan sosial yang tak ramah. Pertanyaan-pertanyaan yang terasa "biasa" bagi orang lain, bisa menjadi belati bagi pasangan yang sedang berjuang: "Sudah isi belum?" "Kok belum punya anak juga?" "Kenapa gak coba bayi tabung aja?" Padahal, tak semua pertanyaan harus diajukan. Dan tidak semua perjuangan harus diumumkan. Privasi Pejuang yang Sering Terluka Di negeri ini, privasi sering kali menjadi barang mewah. Masyarakat masih gemar mencampuri ranah pribadi dengan label “peduli”.  Padahal yang mereka...