Postingan

Peluk Aku Saat Retak: Kisah Aku & Skizofrenia

Gambar
Namaku 'Ummi'. Sejak kecil, dunia di kepalaku tidak pernah tenang. Ada suara-suara yang tak bisa didengar orang lain, bayangan yang menyelinap bahkan di siang bolong, dan perasaan takut yang datang tanpa sebab. Awalnya, semua orang menganggap aku hanya anak yang terlalu berimajinasi. Tapi semua berubah saat aku menginjak usia 15 tahun. Hari itu, aku berteriak di kelas. Suara itu yang selalu membisikkan hal-hal buruk menggila. Aku menutup telinga, menangis, dan lari keluar. Semua mata tertuju padaku. Dan itulah awal dari diagnosis yang mengubah hidupku: skizofrenia. Dunia runtuh. Teman menjauh, guru bersikap hati-hati, dan orang tuaku, mereka berusaha kuat, tapi aku tahu mereka takut. Aku jadi merasa seperti bom waktu. Bahkan diriku sendiri tak bisa kupercaya. Berbulan-bulan aku menjalani terapi, menelan pil-pil yang rasanya seperti pengingat bahwa aku berbeda. Namun satu hari, saat sedang dirawat di bangsal jiwa, aku bertemu 'Bu Fatma' seorang psikolog yang memperlakuka...

Welas Asih

Gambar
☆Original Cerpen By Yunia Haida☆ Namaku Asih. Mama yang memilihkan nama itu, katanya agar aku tumbuh menjadi perempuan yang hatinya penuh kasih. Tapi tak pernah kubayangkan, aku justru harus menjalani makna nama itu dalam bentuk yang paling sepi, menjadi satu-satunya anak yang tetap tinggal  saat semua memilih pergi. Aku anak bungsu dari tujuh bersaudara. Namun saat Mama jatuh sakit, hanya aku yang benar-benar hadir. Bukan karena aku paling mampu, tapi karena aku tak punya tempat lain untuk pulang. Yang lain... terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang baru menikah, ada yang sibuk mengurus anak, ada yang katanya hidup pas-pasan. Semua punya alasan, dan semua alasan itu membuat mereka merasa cukup untuk absen. “Maaf, anakku masih kecil.” “Suamiku belum gajian.” “Aku juga pusing urus rumah tangga.” Itu kalimat-kalimat yang jadi lagu lama di grup WhatsApp keluarga. Lama-lama tak ada yang membalas. Hanya pesan-pesan sunyi yang kubagikan, berharap ada yang tergugah. Tapi ny...

Menapaki Jalan Ayah

Gambar
☆Autobiography Ayah ☆ “Dari Vespa Tua hingga Gelar Sarjana: Jejak Inspirasi dari Seorang Ayah” Saat ini, banyak yang berkata bahwa kerja memerlukan tiga modal: D3 : Duit, Dekeng (ordal), dan Doa. Saat itu, aku sempat berpikir, “Siapa aku? Duit dari mana? Dekeng dari siapa? Dan kalau cuma bermodalkan doa, mungkinkah itu cukup?” Namun sebelum sempat tenggelam dalam keluhan panjang, aku disadarkan oleh sosok yang paling dekat dan paling nyata: Ayah. Ayah bukan seorang motivator dari panggung besar. Ayah hanyalah seorang kuli tinta, seorang ayah biasa dengan motor Vespa tua dari tahun ‘80‑an yang setia menemani langkahnya setiap hari. Profesi itu memang tak pernah luput dari cibiran, tetapi ayah tak pernah bergeming. Ayah berkata: “Yang paling penting bukan soal gengsi, tetapi soal kerja yang halal dan kesungguhanmu menjalaninya.” Saat itu, ayah juga berkata pada kami, “Jangan kerja cuma buat gengsi, kerja saja apa pun itu jadi pedagang, kerja serabutan, wirausaha, honorer, bahkan karyawan...

Why I Have Anxiety

Gambar
☆Original Cerpen ☆ Karya: Yunia Haida Aku pernah mengira, hidupku akan selalu dikelilingi luka. Bahwa rasa takut, cemas, dan trauma akan menjadi teman selamanya. Tapi kemudian, aku bertemu cinta yang tak lari, pelukan yang tak menuntut, dan hari-hari yang tak lagi terasa menyesakkan. Ini kisah tentang sakit yang kupeluk, dan cinta yang menyembuhkannya pelan-pelan. --- Bab 1: Luka Pertama Bernama Ejekan Dari kecil, aku sudah paham rasanya jadi bahan tertawaan. Di sekolah dasar, aku dijuluki dengan panggilan aneh, pendiam, tak punya gaya. Bahkan guru pun tak jarang menyepelekan pendapatku. Aku belajar bertahan, tapi bukan karena aku kuat. Aku hanya tidak punya pilihan. Aku menyimpan semuanya sendiri. Air mataku jatuh diam-diam, di bawah bantal, di toilet sekolah, atau saat naik sepeda saat pulang sambil menunduk. Dari SD, SMP, hingga SMA, bullying terus mengikuti. Bentuknya berubah, tapi rasanya tetap sama: menusuk. --- Bab 2: Di Balik Senyum Kasir Usia 18 adalah titik jatuhku. Tubuhku l...

Pak Tani dan Ikan Ajaib

Gambar
 ☆Original Dongeng Oleh Yunia Haida☆ Di sebuah desa yang damai, hiduplah seorang petani tua yang biasa dipanggil Pak Tani. Setiap hari, Pak Tani bekerja keras mencangkul sawah dan menyiram tanaman.  Meski hidupnya sederhana, Pak Tani adalah orang yang jujur dan baik hati. Suatu siang, matahari bersinar terik. Pak Tani duduk di gubuk kecil di pinggir sungai untuk beristirahat.  Ia menatap air sungai yang tenang sambil melamun. "Andai saja aku punya sedikit uang lebih," gumamnya lirih. "Aku ingin memperbaiki rumah, membeli pupuk, dan membantu tetangga yang kekurangan." Tiba-tiba, "Plung!" terdengar suara cipratan air. Pak Tani terkejut dan menoleh. Seekor ikan berwarna emas muncul dari air, dan yang lebih mengejutkan lagi ikan itu bisa bicara! "Halo, Pak Tani!" kata si ikan sambil tersenyum. Pak Tani mengucek matanya. "A-apa aku sedang bermimpi?" "Bukan, Pak Tani. Aku ikan ajaib. Aku tahu engkau selalu bekerja keras dan tetap bersyuk...