Postingan

Didewasakan Keadaan

Gambar
Potret Anak yang Mengemban Amanah Lebih Awal Tidak semua anak bisa menikmati masa kecil dengan tawa riang, mainan, dan pelukan hangat keluarga. Ada sebagian dari mereka yang harus beranjak dewasa lebih cepat. Bukan karena keinginan, melainkan karena keadaan yang memaksa. Mereka adalah potret anak-anak yang mengemban amanah lebih awal. Anak yang seharusnya belajar mengeja huruf, justru belajar mencari nafkah. Anak yang seharusnya dihujani kasih sayang, justru dihantam tanggung jawab yang terlalu besar. Kita sering melihat mereka di jalanan, di pasar, atau di sudut-sudut kota. Ada yang menjual koran, ada yang mengamen, ada pula yang membantu orang tua menjaga adik-adiknya. Mereka belajar tentang arti hidup sebelum sempat memahami arti masa kecil. Namun, dari keadaan itu tumbuhlah ketangguhan. Mereka belajar bertahan, belajar bersyukur, dan belajar berjuang. Sering kali, anak-anak seperti ini tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan penuh empati. Mereka tahu bagaimana rasanya kekura...

Hari - Hari Terakhir Ayah

Gambar
  ☆Original Cerpen Karya Yunia Haida☆ Semua bermula dari keluhan sakit kepala yang sering datang tiba-tiba. Awalnya, ayah hanya bilang kepalanya pusing, tapi masih tetap memaksakan diri bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Hingga suatu pagi, ayah terjatuh di kamar mandi. Kami segera membawanya ke rumah sakit. Dokter menyatakan ayah terkena stroke akibat komplikasi darah tinggi. Sejak itu, hidup kami berubah. Ayah harus berbaring di ranjang, separuh tubuhnya lumpuh, dan bicaranya mulai sulit. Meski begitu, semangatnya tak pernah padam. Dengan sisa tenaga, ia tetap berusaha tersenyum saat kami menemaninya. Setiap pagi, ayah meminta duduk di kursi rotan favoritnya di teras, menatap langit lama-lama sambil menggenggam tasbih. Hari-hari itu menjadi pelajaran kesabaran.  Ibu tak pernah lelah merawat ayah, membersihkan tubuhnya, menyuapi makan, membetulkan bantal agar ayah lebih nyaman. Aku dan saudaraku bergantian memijat tangan dan kakinya yang kaku. Ayah tetap berusaha berucap,...

Peluk Aku Saat Retak: Kisah Aku & Skizofrenia

Gambar
Namaku 'Ummi'. Sejak kecil, dunia di kepalaku tidak pernah tenang. Ada suara-suara yang tak bisa didengar orang lain, bayangan yang menyelinap bahkan di siang bolong, dan perasaan takut yang datang tanpa sebab. Awalnya, semua orang menganggap aku hanya anak yang terlalu berimajinasi. Tapi semua berubah saat aku menginjak usia 15 tahun. Hari itu, aku berteriak di kelas. Suara itu yang selalu membisikkan hal-hal buruk menggila. Aku menutup telinga, menangis, dan lari keluar. Semua mata tertuju padaku. Dan itulah awal dari diagnosis yang mengubah hidupku: skizofrenia. Dunia runtuh. Teman menjauh, guru bersikap hati-hati, dan orang tuaku, mereka berusaha kuat, tapi aku tahu mereka takut. Aku jadi merasa seperti bom waktu. Bahkan diriku sendiri tak bisa kupercaya. Berbulan-bulan aku menjalani terapi, menelan pil-pil yang rasanya seperti pengingat bahwa aku berbeda. Namun satu hari, saat sedang dirawat di bangsal jiwa, aku bertemu 'Bu Fatma' seorang psikolog yang memperlakuka...

Welas Asih

Gambar
☆Original Cerpen By Yunia Haida☆ Namaku Asih. Mama yang memilihkan nama itu, katanya agar aku tumbuh menjadi perempuan yang hatinya penuh kasih. Tapi tak pernah kubayangkan, aku justru harus menjalani makna nama itu dalam bentuk yang paling sepi, menjadi satu-satunya anak yang tetap tinggal  saat semua memilih pergi. Aku anak bungsu dari tujuh bersaudara. Namun saat Mama jatuh sakit, hanya aku yang benar-benar hadir. Bukan karena aku paling mampu, tapi karena aku tak punya tempat lain untuk pulang. Yang lain... terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang baru menikah, ada yang sibuk mengurus anak, ada yang katanya hidup pas-pasan. Semua punya alasan, dan semua alasan itu membuat mereka merasa cukup untuk absen. “Maaf, anakku masih kecil.” “Suamiku belum gajian.” “Aku juga pusing urus rumah tangga.” Itu kalimat-kalimat yang jadi lagu lama di grup WhatsApp keluarga. Lama-lama tak ada yang membalas. Hanya pesan-pesan sunyi yang kubagikan, berharap ada yang tergugah. Tapi ny...

Di Balik Layar Retak

Gambar
☆Original Cerpen Karya Yunia Haida☆ "Dalam keterbatasan, kita menemukan kekuatan untuk mengubah hal yang tak mungkin menjadi mungkin." Di sebuah SMA yang mengedepankan teknologi, Ranti selalu merasa sedikit terpinggirkan. Setiap siswa di sekolah itu memiliki smartphone canggih, laptop dan akses tanpa batas ke berbagai aplikasi untuk memudahkan mereka belajar.  di sisi lain,Ranti hanya memiliki satu ponsel second pemberian ayahnya yang sudah usang. Layar ponsel itu sudah retak dan seringkali terasa lambat, namun itu adalah satu-satunya barang berharga yang dimilikinya, pemberian ayahnya yang bekerja sebagai pedagang asongan di terminal. Ayahnya menabung berbulan-bulan hanya untuk membelikan ponsel itu, agar Ranti tak tertinggal pelajaran digital di sekolah. Pagi itu, seperti biasa, Ranti berjalan dengan langkah ringan menuju sekolah. Ponsel tua itu ada di dalam tasnya, dan dia berusaha tidak terlalu memikirkan pandangan teman-temannya. Namun, begitu sampai di kelas. Zaskia, si...

Senyumku yang Berharga

Gambar
☆Original Cerpen Karya Yunia Haida☆   Namaku Gino. Aku dilahirkan dengan bibir sumbing yang membuatku merasa berbeda sejak kecil. Setiap kali aku bercermin, aku melihat luka yang membuatku takut. Aku selalu menutupi mulutku saat tersenyum. Anak-anak lain seringkali mengejekku, membuat hatiku sakit. Di sekolah dasar, aku selalu duduk di bangku paling belakang. Aku takut maju ke depan kelas karena khawatir mereka akan mentertawakanku. Kadang, aku cuma bisa mendengarkan dari jauh, merunduk agar tak menarik perhatian. “Eh, Gino… bibirmu tuh kenapa sih?” tanya Dika, teman sekelasku, sambil menatap bibirku dengan jijik. Aku hanya diam, tak sanggup menjawab. “Lihat tuh, mulutnya bolong! Ih, serem banget,” seru Rani, sambil menutup hidungnya seolah-olah aku kotor. Aku menunduk, air mata menetes. Rasanya ingin sekali berlari pulang. *** Sepulang sekolah, aku menangis di pelukan ibuku. “Ibu… kenapa aku begini? Aku nggak mau ke sekolah lagi…” Ibuku mengusap kepalaku lembut. “Nak, kamu tahu? S...