Devil Beside Relationship
☆Cerpen Kisah Rumah Tangga☆
Oleh : Yunia Haida
"Hati-hatilah, sebab Dasim bersemayam di antara suami-istri yang lengah, membisikkan api pertengkaran hingga cinta suci berubah jadi kebencian. Dalam setiap rumah tangga, ada Dasim yang berusaha masuk lewat celah kealpaan. Maka doa dan kesabaran adalah benteng terkuat melawannya.”
***
Di balik senyum hangat yang sering mereka pamerkan di media sosial, rumah tangga Hanisah dan Farhan menyimpan luka yang tak pernah selesai.
Hanisah adalah seorang ibu rumah tangga yang tabah. Setiap hari ia bangun lebih awal, menyiapkan sarapan, memastikan rumah tetap rapi, mengasuh anak-anak dengan sabar.
Ia menunda mimpinya agar suaminya bisa fokus bekerja. Namun, semakin ia berkorban, semakin Farhan menjauh.
Di meja makan, Hanisah sering menyapa,
“Mas, sarapannya sudah siap.”
Tapi Farhan hanya menjawab singkat tanpa menatap, “Ya.”
Bukan karena Hanisah kurang cantik, bukan pula karena ia tak pandai mengurus rumah. Ada iblis kecil yang menyusup diam-diam di antara mereka: ego dan bisikan godaan.
Farhan merasa hidupnya monoton. Ia mulai mencari warna di luar rumah. Sebuah notifikasi dari aplikasi chat menjadi awal.
Satu pujian dari perempuan asing membuatnya lebih berbinar daripada ucapan terima kasih istrinya setiap hari. Iblis itu berbisik, “Hanya berteman, tak ada salahnya.” Namun dari sekadar teman, berubah menjadi candu.
Hanisah merasakan ada yang aneh. Tatapan suaminya kosong, ponselnya tak pernah lepas dari genggaman. Ia menahan curiga, berusaha percaya, tapi hatinya semakin sakit.
Malam-malam ia menangis dalam doa,
“Ya Allah, kalau rumah tangga ini Kau takdirkan, kuatkan aku. Tapi jika hanya jadi penjara, lepaskan aku.”
Puncaknya, sebuah pesan terbuka tanpa sengaja di layar ponsel Farhan. Kalimat manis dari wanita lain seolah menampar seluruh pengorbanan Hanisah. Ia tak marah-marah, hanya terdiam. Dan justru itulah yang paling menakutkan bagi Farhan, tatapan hampa seorang istri yang patah.
Namun janji untuk berubah hanya bertahan sebentar. Pergaulan malam mulai merenggutnya. Undangan nongkrong selepas kerja berujung pada kebiasaan pulang larut dengan aroma rokok dan aroma alkohol.
Lalu datang godaan yang lebih berbahaya: judi online.
Awalnya Farhan hanya mencoba, katanya iseng mengisi waktu. Seratus ribu hilang, ia coba lagi. Tiba-tiba menang sejuta, ia ketagihan.
Ia merasa berkuasa, seperti bisa mengendalikan rezeki hanya dengan sentuhan jari. Namun kemenangan hanyalah jebakan. Puluhan juta gaji lenyap dalam sekejap, bahkan ia mulai berutang.
Hanisah mencium keganjilan: tabungan menipis, cicilan rumah tersendat, sementara suaminya semakin sering memegang ponsel dengan wajah gusar. Hingga suatu hari,
ia menemukan bukti transfer pinjaman online. Jumlahnya membuat lututnya lemas. Lebih pedih lagi saat ia tahu cincin pernikahannya telah digadaikan diam-diam.
“Mas, itu bukan sekadar perhiasan. Itu janji... janji yang kau pasangkan di hari kita berikrar. Apa semuanya semudah itu kau gadaikan?”
Farhan tertunduk, tak sanggup menjawab. Namun besoknya, iblis kembali merayunya dengan meja taruhan dan gemerlapnya dunia malam.
Hanisah pun merasa semakin lelah. Namun alih-alih menyerah, ia memilih jalan yang lebih tinggi: berdoa. Malam-malam panjang ia lalui dalam sujud, merintih dengan doa yang hanya Allah dengar.
“Ya Rabb, Engkau yang membolak-balikkan hati manusia. Jika pernikahan ini masih bisa diselamatkan, tuntunlah. Jika tidak, beri aku kekuatan untuk melepaskannya.”
Doa itu terus ia panjatkan, hingga suatu hari Allah menjawab dengan cara tak terduga. Sebuah pengumuman dari masjid menyebut ada undangan umroh dari seorang donatur untuk jamaah terpilih dan nama Hanisah termasuk di dalamnya. Ia hampir tak percaya.
“Ya Allah… ini panggilan-Mu?”
Di tanah suci, di hadapan Ka’bah yang agung, Hanisah menumpahkan seluruh luka. Air matanya jatuh tanpa henti.
“Ya Allah, aku hanya ingin rumah tangga ini kembali Engkau berkahi. Jika Farhan masih Kau takdirkan untukku, lembutkan hatinya, jauhkan dari iblis pergaulan dunia malam dan judi online. Tapi bila sudah tidak ada jalan, maka ikhlaskan aku untuk berpisah dengan tenang.”
Doa itu seperti aliran sungai, menghapus sebagian beban yang selama ini ia pikul. Hanisah pulang dengan hati yang lebih lapang, lebih siap menerima apa pun takdir yang menantinya.
Sementara itu, Farhan di rumah mulai merasakan sepi. Tanpa kehadiran Hanisah,
ia tersadar betapa hampa hidupnya meski dikelilingi lampu malam, suara musik keras, dan janji semu dari meja taruhan. Saat ia pulang larut, rumah begitu senyap. Tak ada senyum yang menunggunya, tak ada tangan yang menyodorkan kopi hangat.
Ketika Hanisah pulang dari umroh, wajahnya bercahaya. Ia tidak lagi penuh amarah, hanya ketenangan yang menyelimuti. Itu membuat Farhan terguncang.
“Han… kau berbeda. Apa yang kau minta di sana?” tanyanya dengan suara bergetar.
Hanisah menatapnya lembut.
“Aku hanya meminta satu, Mas. Agar Allah menunjukkan jalan terbaik untuk kita,
Apakah terus bersama atau berpisah.”
Kata-kata itu menghantam hati Farhan lebih keras dari semua nasihat yang pernah ia dengar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menangis di hadapan istrinya.
Tangisan Farhan malam itu menjadi titik balik. Ia tersadar, dirinya hampir kehilangan segalanya: istri yang setia, anak-anak yang menunggu kasih sayang, dan ridha Allah yang selama ini ia abaikan. Perlahan ia mulai berubah. Aplikasi judi ia hapus, ia jauhi teman-teman pergaulan malam, dan ia kembali ke masjid.
“Han, aku bersyukur Allah tidak langsung mengambilmu dari sisiku. Aku berjanji, aku ingin menjadi imam yang benar-benar kau dambakan.”
Hanisah menatapnya lirih. Ia tahu, perjalanan ini masih panjang. Luka lama tak bisa hilang sekejap, tapi ia percaya pada kuasa doa.
“Pernikahan bukan tentang mencari pasangan sempurna, melainkan tentang dua jiwa yang mau saling memperbaiki. Ujian dalam rumah tangga adalah cara Allah mengajarkan arti sabar, ikhlas, dan kesetiaan. Jangan menyerah hanya karena badai, sebab badai bisa jadi jalan menuju pelangi.”
Hari-hari mereka kembali berwarna. Ada tawa anak-anak yang mengisi ruang kosong, ada doa bersama setelah shalat berjamaah, dan ada janji yang kini lebih kuat dari cincin emas: janji untuk saling menjaga, bukan hanya ketika cinta terasa indah, tapi juga ketika hidup terasa berat.
Hanisah tersenyum dalam hati. Doanya di tanah suci telah dijawab bukan dengan jalan perpisahan, melainkan dengan pintu perubahan. Dan ia tahu, inilah kemenangan sejati: bukan mengalahkan suami, tapi bersama-sama mengalahkan iblis yang pernah hampir merobohkan rumah tangga mereka.
***
•Devil Beside Relationship hadir sebagai pengingat, bahwa cinta sejati tidak pernah berjalan mulus tanpa ujian. Selalu ada “iblis di samping” yang berbisik: berupa hawa nafsu, amarah, kebohongan, atau dunia berkilau yang penuh tipu daya. Namun, pada akhirnya, kekuatan doa dan imanlah yang akan menuntun pasangan melewati badai.
Cerpen ini bukan sekadar kisah, melainkan cermin kehidupan. Semoga setiap pembaca dapat menemukan makna, bahwa menjaga hubungan bukan hanya soal cinta, tetapi juga perjuangan melawan godaan iblis yang berusaha memisahkan.
~Yunia Haida~

Komentar
Posting Komentar