Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Peluk Aku Saat Retak: Kisah Aku & Skizofrenia

Gambar
Namaku 'Ummi'. Sejak kecil, dunia di kepalaku tidak pernah tenang. Ada suara-suara yang tak bisa didengar orang lain, bayangan yang menyelinap bahkan di siang bolong, dan perasaan takut yang datang tanpa sebab. Awalnya, semua orang menganggap aku hanya anak yang terlalu berimajinasi. Tapi semua berubah saat aku menginjak usia 15 tahun. Hari itu, aku berteriak di kelas. Suara itu yang selalu membisikkan hal-hal buruk menggila. Aku menutup telinga, menangis, dan lari keluar. Semua mata tertuju padaku. Dan itulah awal dari diagnosis yang mengubah hidupku: skizofrenia. Dunia runtuh. Teman menjauh, guru bersikap hati-hati, dan orang tuaku, mereka berusaha kuat, tapi aku tahu mereka takut. Aku jadi merasa seperti bom waktu. Bahkan diriku sendiri tak bisa kupercaya. Berbulan-bulan aku menjalani terapi, menelan pil-pil yang rasanya seperti pengingat bahwa aku berbeda. Namun satu hari, saat sedang dirawat di bangsal jiwa, aku bertemu 'Bu Fatma' seorang psikolog yang memperlakuka...

Welas Asih

Gambar
☆Original Cerpen By Yunia Haida☆ Namaku Asih. Mama yang memilihkan nama itu, katanya agar aku tumbuh menjadi perempuan yang hatinya penuh kasih. Tapi tak pernah kubayangkan, aku justru harus menjalani makna nama itu dalam bentuk yang paling sepi, menjadi satu-satunya anak yang tetap tinggal  saat semua memilih pergi. Aku anak bungsu dari tujuh bersaudara. Namun saat Mama jatuh sakit, hanya aku yang benar-benar hadir. Bukan karena aku paling mampu, tapi karena aku tak punya tempat lain untuk pulang. Yang lain... terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang baru menikah, ada yang sibuk mengurus anak, ada yang katanya hidup pas-pasan. Semua punya alasan, dan semua alasan itu membuat mereka merasa cukup untuk absen. “Maaf, anakku masih kecil.” “Suamiku belum gajian.” “Aku juga pusing urus rumah tangga.” Itu kalimat-kalimat yang jadi lagu lama di grup WhatsApp keluarga. Lama-lama tak ada yang membalas. Hanya pesan-pesan sunyi yang kubagikan, berharap ada yang tergugah. Tapi ny...

Menapaki Jalan Ayah

Gambar
☆Autobiography Ayah ☆ “Dari Vespa Tua hingga Gelar Sarjana: Jejak Inspirasi dari Seorang Ayah” Saat ini, banyak yang berkata bahwa kerja memerlukan tiga modal: D3 : Duit, Dekeng (ordal), dan Doa. Saat itu, aku sempat berpikir, “Siapa aku? Duit dari mana? Dekeng dari siapa? Dan kalau cuma bermodalkan doa, mungkinkah itu cukup?” Namun sebelum sempat tenggelam dalam keluhan panjang, aku disadarkan oleh sosok yang paling dekat dan paling nyata: Ayah. Ayah bukan seorang motivator dari panggung besar. Ayah hanyalah seorang kuli tinta, seorang ayah biasa dengan motor Vespa tua dari tahun ‘80‑an yang setia menemani langkahnya setiap hari. Profesi itu memang tak pernah luput dari cibiran, tetapi ayah tak pernah bergeming. Ayah berkata: “Yang paling penting bukan soal gengsi, tetapi soal kerja yang halal dan kesungguhanmu menjalaninya.” Saat itu, ayah juga berkata pada kami, “Jangan kerja cuma buat gengsi, kerja saja apa pun itu jadi pedagang, kerja serabutan, wirausaha, honorer, bahkan karyawan...