Kata Pertama
☆Original Cerpen Oleh Yunia Haida☆
Hujan turun pelan di sore hari saat Lela memandangi baju-baju bayi yang tersimpan rapi dalam lemari. Sudah hampir lima tahun usia pernikahannya dengan Dimas, dan belum juga ada tanda-tanda kehadiran buah hati. Padahal setiap tahun, setiap momen perayaan, yang mereka terima bukan ucapan selamat, melainkan pertanyaan menyakitkan.
"Udah lima tahun, kok belum isi juga, Bu? Jangan-jangan kurang dirawat tuh suaminya."
"Atau mandul?"
Kalimat-kalimat itu bagai tusukan-tusukan halus yang menusuk dada. Setiap pulang dari arisan RT, mata Lela selalu sembab. Dan Dimas, sang suami, hanya bisa memeluknya dalam diam.
Suatu malam, Lela menangis pelan di balik selimut. Dimas, yang merasakan tubuh istrinya gemetar, langsung memeluknya erat.
"Mas... apa kita memang nggak pantas jadi orangtua?" tanya Lela lirih, suaranya nyaris hilang ditelan isak.
"Bukan mereka yang menentukan kita punya anak atau tidak, Dek," ucap Dimas lembut, mengelus rambut istrinya. "Tugas kita hanya terus berharap, terus berdoa, dan terus mencintai satu sama lain, apapun takdirnya."
***
Tahun keenam pernikahan mereka adalah titik balik. di suatu pagi yang biasa, Lela memuntahkan sarapan tanpa sebab. Ia mencoba test pack dengan tangan gemetar. Dua garis merah terlihat. Dunia seakan berhenti sesaat. Ia menangis, tersedu-sedu, lalu berlari ke pelukan suaminya.
"Mas... kita bakal jadi orangtua..."
Dan dunia mereka berubah.
Dua garis merah di test pack yang akhirnya hadir membuat Lela bersujud dalam tangis panjang. Kehamilan itu bukan sekadar kabar bahagia, itu adalah jawaban atas ribuan doa tengah malam, sujud penuh air mata, dan sabar yang tak bertepi.
Namun, takdir kembali menguji. Anak mereka, Aruna, lahir dengan kondisi down syndrome.
"Kalian harus kuat," kata dokter sambil menyampaikan diagnosis itu. "Setiap anak terlahir istimewa, tergantung bagaimana kita menerima dan membantu mereka tumbuh."
Lela sempat terpukul. Ia menyalahkan diri sendiri, bertanya dalam hati apakah ini akibat dari doanya yang terlalu keras. Tapi Dimas menggenggam tangannya kuat.
"Aruna bukan kutukan, dia anugerah. Bukan semua orang dipercaya Tuhan untuk merawat anak istimewa seperti dia."
Tahun demi tahun dilalui dengan air mata dan harapan. Aruna tumbuh pelan. Ia tak bisa bicara seperti anak-anak lain seusianya. Tiap kata yang tak keluar membuat hati Lela teriris. Ia mengikuti berbagai terapi, membacakan buku tiap malam, bernyanyi pelan meski balasan hanya senyum kosong.
Tapi pada suatu sore di usia Aruna yang ke-3, saat Lela tengah menyuapinya bubur labu, sebuah keajaiban datang.
"Mama..."
Lela terdiam. Sendok di tangannya jatuh. Matanya membelalak, menatap Aruna yang tersenyum polos.
"Pa...pa..."
Dimas yang baru pulang dari kantor langsung memeluk mereka berdua. Tangis bahagia meledak di ruang tamu mungil itu. Dua kata yang biasa bagi banyak orang, tapi merupakan doa hidup bagi mereka.
Mulai dari sana, semangat mereka membuncah. Aruna diajak ikut les melukis dan musik, karena ia lebih responsif terhadap warna dan bunyi. Jari-jarinya kecil, tapi mampu mencipta garis-garis yang punya rasa. Ketika pertama kali lukisan Aruna dipajang di festival anak-anak berkebutuhan khusus, Lela berdiri mematung. Tangisnya pecah lagi.
“Anak kita bisa, Mas. Dia bisa...”
Kini Aruna tumbuh menjadi anak yang bukan hanya menyayangi, tapi juga menginspirasi. Ia belum sepenuhnya lancar bicara, tapi lewat senyumnya, warnanya, dan denting pianonya, ia menyampaikan sesuatu yang lebih dalam dari kata.
---
Setiap anak terlahir istimewa. Bukan seberapa cepat mereka bicara, berjalan, atau menulis. Tapi seberapa tulus kita mencintai dan membantu mereka tumbuh. Karena cinta tak pernah mengenal batas kemampuan. Ia hanya butuh satu hal: penerimaan.
Tamat

Komentar
Posting Komentar