Luka yang Mengantar Hijrah


Kadang, mimpi yang tertunda bukan akhir dari segalanya. Allah hanya ingin menggantinya dengan sesuatu yang lebih indah, di waktu yang lebih tepat.”



***

“Arsyifa kecil selalu ingin jadi model,” gumamnya sambil membenahi scarf pashmina berwarna pastel di depan cermin.


Di rak-rak belakangnya, deretan baju rancangan sendiri tertata rapi. Busana muslimah modern dengan sentuhan vintage yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan di Instagram. Tak ada yang menyangka, seorang gadis pendiam yang dulu selalu menunduk karena malu dengan kakinya, kini berdiri percaya diri di panggung modest fashion lokal.


Namun tak semua orang tahu luka di balik senyuman itu. Luka yang bermula di halaman sekolah dasar, saat ia duduk di kelas lima.


Hari itu, anak-anak sedang merayakan akhir semester. Ramai dan gaduh seperti biasanya. Cindy dan Meldy, dua anak paling usil di kelas, membawa beberapa batang mercon.


“Hei Syif, mau lihat kembang api meledak di dekat kakimu?” ejek Cindy sambil tertawa. Sebelum Arsyifa sempat menjauh, satu mercon menyala dilempar ke arahnya.


DUAR!

Panas. Perih. Jeritannya menembus udara sore yang keruh. Seragamnya terbakar sebagian. Dan sejak saat itu, kulit kakinya tak pernah kembali seperti semula.


***


Arsyifa tumbuh menjadi remaja pendiam. Ia mulai menolak undangan pensi, menjauh dari kamera, dan mengubur mimpi menjadi model. Kaki kanannya selalu ia tutupi dengan kaus kaki panjang atau celana longgar. Bahkan di rumah, ia enggan melihatnya.


Namun, semuanya berubah saat ia mulai mengenal hijrah. Awalnya ia berhijab karena ingin menutupi bagian tubuh yang membuatnya malu. Tapi perlahan, ia menemukan kedamaian.


“Hijrah bukan sekadar menutup, tapi membuka hati untuk mencintai takdir dengan cara yang Allah kehendaki.”


Ia mulai bereksperimen dengan gaya hijab, mengikuti kelas desain busana muslim, hingga akhirnya membuka akun media sosial yang tak disangka langsung ramai pengikut.


Gaya hijabnya yang anggun, syar’i tapi tetap stylish, menarik perhatian banyak orang. Ia diminta menjadi brand ambassador, lalu akhirnya mendirikan label busana sendiri: 

Syifa Modestwear.


***


Suatu siang, di sebuah pameran fashion muslimah, dua wanita mendekat ke stan miliknya.


“Arsyifa?” suara itu terdengar ragu, tapi tidak asing.


Ia menoleh. Dua wajah dari masa lalu berdiri di depannya. Cindy dan Meldy. Mereka tampak berbeda lebih dewasa, tapi canggung.


“Aku... kami...” Meldy membuka suara duluan, “Kami cuma ingin minta maaf.”


“Untuk apa?” tanya Arsyifa pelan, walau ia tahu jawabannya.


“Untuk mercon itu. Untuk semua kekonyolan kita dulu. Maafkan kami, Syif. Kami pikir itu hanya lelucon anak kecil. Kami... kami nggak pernah bisa melupakan itu.”


Arsyifa terdiam. Sekian tahun ia menghindari bayangan masa lalu. Tapi hari ini, bayangan itu datang sendiri untuk minta maaf.


“Dulu aku sempat membenci kalian. Tapi sekarang aku sadar, Allah ngasih luka itu bukan untuk menjatuhkan aku. Tapi untuk menuntunku ke jalan ini.”


Cindy menunduk, air matanya mengalir. “Kami bangga padamu, Syif. Dan sekaligus malu... karena dulu kami yang menghancurkan mimpimu.”


Arsyifa tersenyum, lembut. “Mimpiku memang hancur, tapi Allah mengganti dengan mimpi baru yang lebih indah. Lebih berkah. Kalian tidak hanya menyakiti aku, tapi juga membantu aku menemukan versi terbaik dari diriku.”


“Terkadang, Allah izinkan kita jatuh, agar kita bisa bangkit dengan cara yang lebih mulia.”


Mereka bertiga berdiri dalam diam. Tidak ada dendam yang tersisa. Hanya pengampunan, dan lembaran baru yang terbuka.


***


Malam itu, Arsyifa menulis di jurnal kecilnya:


Dulu aku ingin berdiri di panggung mode dunia dengan gaun mewah dan kaki indah. Tapi kini, aku berdiri dengan kaki yang pernah terluka, mengenakan hijab yang membawa berkah, dan baju hasil rancanganku sendiri. Bukan hanya untuk tampil, tapi untuk menebar inspirasi.


“Hijrah bukan pelarian. Hijrah adalah keberanian untuk meninggalkan yang kita cintai demi sesuatu yang lebih dicintai Allah.”


Dan Arsyifa tahu, inilah panggung hidup yang Allah pilihkan untuknya. Lebih terang dari sorotan lampu mana pun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jeratan Digital: Ketika Pinjol dan Judol Merampas Akal Sehat

Pentingnya Pendidikan Bagi Wanita

Refleksi Pejuang Garis Dua: Antara Nyinyir dan Dukungan Nyata