Why I Have Anxiety
☆Original Cerpen ☆
Karya: Yunia Haida
Aku pernah mengira, hidupku akan selalu dikelilingi luka. Bahwa rasa takut, cemas, dan trauma akan menjadi teman selamanya. Tapi kemudian, aku bertemu cinta yang tak lari, pelukan yang tak menuntut, dan hari-hari yang tak lagi terasa menyesakkan.
Ini kisah tentang sakit yang kupeluk, dan cinta yang menyembuhkannya pelan-pelan.
---
Bab 1: Luka Pertama Bernama Ejekan
Dari kecil, aku sudah paham rasanya jadi bahan tertawaan. Di sekolah dasar, aku dijuluki dengan panggilan aneh, pendiam, tak punya gaya. Bahkan guru pun tak jarang menyepelekan pendapatku. Aku belajar bertahan, tapi bukan karena aku kuat. Aku hanya tidak punya pilihan.
Aku menyimpan semuanya sendiri. Air mataku jatuh diam-diam, di bawah bantal, di toilet sekolah, atau saat naik sepeda saat pulang sambil menunduk.
Dari SD, SMP, hingga SMA, bullying terus mengikuti. Bentuknya berubah, tapi rasanya tetap sama: menusuk.
---
Bab 2: Di Balik Senyum Kasir
Usia 18 adalah titik jatuhku. Tubuhku lelah, pikiranku gelap, dan setiap napas rasanya seperti pertarungan. Diagnosisnya: Anxiety Disorder.
Aku menjalani terapi dan istirahat dari kehidupan. Saat mulai membaik, aku memutuskan untuk bekerja sebagai kasir di minimarket. Awalnya terasa menyembuhkan. Aku mulai menyapa orang, mencoba tersenyum meski dalam hati bergetar.
Tapi suatu hari, seseorang dari masa lalu datang sebagai konsumen. Ia menatapku dengan sinis dan berkata,
"Masih begini aja ya? Kukira kamu udah berubah."
Aku kembali runtuh. Malam itu aku menangis seperti dulu. Esoknya, aku tak sanggup pergi bekerja lagi.
---
Bab 3: Kado dari Ayah
Tahun 2015, ayahku jatuh sakit. Saat semua terasa goyah, ia tetap jadi satu-satunya tempat aku berpulang.
Ia tahu aku dibully. Ia tahu aku cemas. Tapi ia tak pernah menyalahkanku. Tanpa banyak kata, ia memberiku hadiah sederhana: sebuah smartphone layar sentuh.
"Untuk kamu belajar. Dunia boleh mengecewakan, tapi kamu tetap bisa memilih bertumbuh."
Itu adalah hadiah terakhirnya. Tak lama setelah itu, ia pergi untuk selamanya. Dan aku… belum benar-benar pulih. Saat semua orang menangis, aku hanya terdiam. Bukan karena aku tak sedih, tapi karena pikiranku terlalu beku untuk mengolah perasaan
Baru bertahun-tahun kemudian aku benar-benar sadar: aku telah kehilangan pelindung terbesar dalam hidupku.
---
Bab 4: Kembali Ke Bangku Kuliah
Dorongan ibuku membuatku mendaftar kuliah. Meski ragu, aku mencoba. Kupikir kampus akan jadi tempat yang lebih sehat. Tapi ternyata tidak. Aku tetap dibully. Kali ini tentang penampilan, gaya bicara, dan cara berpakaianku.
Namun di antara kerumunan itu, aku bertemu seorang sahabat. Ia tak hanya melihatku dengan ramah, tapi juga menolongku menemukan versi terbaik diriku. Ia menyebutku “unik”. Ia memotretku, mengajarkanku berpakaian dan tampil percaya diri, ia berkata bahwa "mataku terlihat dingin" tapi punya cerita yang layak didengar.
---
Bab 5: Dunia yang Lebih Luas Lewat Layar
Dari dorongan sahabatku, aku mulai menulis blog. Kutumpahkan semua kegelisahan, kisah, dan harapan. Ajaibnya, tulisanku dibaca oleh orang-orang dari berbagai negara.
Mereka cerdas, tapi rendah hati. Mereka tak merendahkanku, malah memberiku ilmu tentang teknologi, desain, digital marketing. Aku tak lagi merasa sendirian. Dunia maya memberiku panggung kecil untuk berdiri tegak.
Aku berhasil wisuda. Bukan yang terbaik, tapi tepat waktu. dan itu sudah lebih dari cukup untuk diriku yang dulu nyaris tak percaya diri untuk sekadar keluar kamar. Bagiku, itu adalah kemenangan besar. Aku membayangkan senyum ayahku di surga, menatapku dengan bangga.
---
Bab 6: Cinta yang Tak Pergi
Lalu, datanglah dia. Lelaki yang entah kenapa selalu sabar mendengarkanku. Aku cerita tentang masa laluku, tentang kecemasanku, dan tentang diagnosa yang pernah membuatku malu. Tapi ia tetap di sana.
"Kalau kamu punya luka, biar aku belajar menyembuhkannya bersamamu." katanya.
Kami menjalani hubungan dengan kejujuran. Sampai akhirnya ia melamarku, dan aku... menjawab dengan air mata bahagia.
Aku sempat menyembunyikan kondisiku dari keluarganya. Tapi ketika mereka tahu pun, aku tidak dijauhi. Justru mereka mendekapku, seolah berkata,
"Kamu sudah jadi bagian dari kami, sejak awal."
---
Bab 7: Kota Baru, Hidup Baru
Setelah menikah, suamiku mengajakku pindah ke kota baru. Kota di mana tak ada yang mengenalku. Tak ada masa lalu. Tak ada ejekan. Hanya aku, dia, dan lembaran baru yang belum ternoda.
Di kota itu, aku mulai menata hidup. Kami pergi ke tempat-tempat wisata: pantai, bukit, air terjun, bahkan taman kecil di tengah kota yang sepi. Di sana, aku melihat wajahku di kaca jendela tenang, tidak lagi ketakutan.
Kami mulai membangun rumah kecil dengan cinta besar. Aku belajar memasak, merawat tanaman, dan menulis lagi. Tapi kali ini, bukan untuk menyembuhkan... melainkan untuk merayakan.
Setiap pagi, dia akan menyeduh teh tarik yang terbuat dari campuran susu dan berkata,
"Hari ini kamu terlihat lebih ceria dan bahagia."
Dan aku tahu, dia benar.
---
Epilog: Aku yang Kini
Aku masih punya anxiety. Tapi aku tak lagi hidup dalam ketakutan. Aku berdamai, bukan menyerah.
Aku menikah dengan seseorang yang melihatku bukan sebagai luka, tapi sebagai keindahan yang sempat tersembunyi.
Dan hari ini, aku bisa bilang dengan penuh keyakinan:
Yes, I Have Anxiety.
But I Also Have Hope.
I Have Love. And I Have Myself.

Komentar
Posting Komentar