Menapaki Jalan Ayah
☆Autobiography Ayah☆
“Dari Vespa Tua hingga Gelar Sarjana: Jejak Inspirasi dari Seorang Ayah”
Saat ini, banyak yang berkata bahwa kerja memerlukan tiga modal: D3 : Duit, Dekeng (ordal), dan Doa.
Saat itu, aku sempat berpikir, “Siapa aku? Duit dari mana? Dekeng dari siapa? Dan kalau cuma bermodalkan doa, mungkinkah itu cukup?”
Namun sebelum sempat tenggelam dalam keluhan panjang, aku disadarkan oleh sosok yang paling dekat dan paling nyata: Ayah.
Ayah bukan seorang motivator dari panggung besar. Ayah hanyalah seorang kuli tinta, seorang ayah biasa dengan motor Vespa tua dari tahun ‘80‑an yang setia menemani langkahnya setiap hari. Profesi itu memang tak pernah luput dari cibiran, tetapi ayah tak pernah bergeming. Ayah berkata:
“Yang paling penting bukan soal gengsi, tetapi soal kerja yang halal dan kesungguhanmu menjalaninya.”
Saat itu, ayah juga berkata pada kami, “Jangan kerja cuma buat gengsi, kerja saja apa pun itu jadi pedagang, kerja serabutan, wirausaha, honorer, bahkan karyawan biasa. Tidak ada kerja kecil kalau kamu menjalaninya dengan kerja keras dan niat yang baik. Kalau terlalu pilih‑pilih kerja hanya karena gengsi ijazah, kamu bisa tumbuh jadi sarjana yang hanya membawa ijazah tetapi tak membawa pengalaman dan kerja nyata.”
Ayah juga berkata dengan penuh kesabaran, “Sarjana memang banyak, tetapi yang siap kerja dari bawah tidak selalu ada. Ada yang gajinya kecil di awal, bahkan dirapel tiga bulan atau lima bulan sekali. Ada yang mulai dari kerja honorer dengan gaji kecil tetapi terus berusaha hingga Allah bukakan jalannya.”
Beliau bahkan menyarankan kami agar memilih profesi yang membawa nilai lebih dari soal materi semata.
“Jadi guru, tenaga kesehatan bukan soal gaji yang menjanjikan, tetapi soal memberi manfaat, soal membawa bekal dari dunia hingga akhirat.”
Dan dari semua nasihat itu, tumbuhlah bukti nyata:
Kakak pertama memulai dari guru honorer dengan gaji hanya 30 ribu, sambil melanjutkan kuliah hingga akhirnya lolos PNS dan bahkan menempuh pelatihan calon kepala sekolah.
Kakak ketiga merantau hingga ke Cilegon dan tumbuh sebagai guru berdedikasi, bahkan meraih predikat Guru Teladan se‑Kota Serang, Banten.
Kakak kedua, yang sempat merasa dunia tak berpihak padanya, pernah gagal tes di Kejaksaan, pernah juga mencoba di PTPN 7, bahkan pernah menjadi honorer dengan gaji hanya 200 ribu. Namun Allah lebih tahu. Berbekal kegigihan dan kerja keras, dia kini menjelma menjadi sosok yang membawa semangat ayah dalam bentuk nyata: seorang penerus nilai keadilan dan pembela bagi yang lemah. Siapa sangka, dari tubuh kecil yang dulu diremehkan, Allah izinkan dia mendapat beasiswa S2 di Universitas Indonesia dan menyelesaikan pendidikan Advokat hingga kini menjabat sebagai Staf Ahli Komisi III DPR RI.
Ayah memang tak pernah tamat sekolah tinggi, tetapi nilai dan semangat yang dia tanamkan membuat kami mengerti bahwa bekal ilmu bukan soal gengsi semata. Itu soal kerja keras, soal keikhlasan, soal menjadikan setiap langkah dan usaha sebagai bekal untuk dunia dan akhirat.
Saat masa depan belum terlihat jelas, ayah berkata,
“Saat kamu belum melihat ujung jalannya, teruslah melangkah. Berusaha dan berdoalah, Allah yang akan bukakan jalan itu.”
Dan memang benar. Allah tidak pernah menutup jalan bagi hamba yang gigih dan tawakal.
____
Keberhasilan bukan soal siapa yang ada di belakangmu, tetapi soal kerja keras dan kegigihanmu sendiri.
Sekecil apa pun kerja dan usaha yang dijalani dengan niat baik, Allah tidak pernah memandangnya remeh.
Pendidikan bukan soal nilai ijazah semata, tetapi soal nilai dan keberkahan yang tumbuh dari kerja keras dan kerja ikhlas.
Hormatilah kerja keras dan pengorbanan orang tua, karena dari tetes peluh dan doa mereka, lahirlah masa depan yang gemilang.
Dan yang paling penting,"If you can dream it, you can make it happen. but never forget, a dream means nothing without action." "Jika kamu bisa memimpikannya, kamu juga bisa mewujudkannya. tapi jangan pernah lupa, sebuah mimpi tak berarti apa-apa tanpa tindakan."
“Semoga kerja keras, peluh, dan munajat panjang ayah bagi masa depan kami menjadi ladang pahala yang tak pernah putus bagi beliau di sisi Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.”
@yuniahaida

Komentar
Posting Komentar