Peluk Aku Saat Retak: Kisah Aku & Skizofrenia
Namaku 'Ummi'. Sejak kecil, dunia di kepalaku tidak pernah tenang. Ada suara-suara yang tak bisa didengar orang lain, bayangan yang menyelinap bahkan di siang bolong, dan perasaan takut yang datang tanpa sebab. Awalnya, semua orang menganggap aku hanya anak yang terlalu berimajinasi. Tapi semua berubah saat aku menginjak usia 15 tahun.
Hari itu, aku berteriak di kelas. Suara itu yang selalu membisikkan hal-hal buruk menggila. Aku menutup telinga, menangis, dan lari keluar. Semua mata tertuju padaku. Dan itulah awal dari diagnosis yang mengubah hidupku: skizofrenia.
Dunia runtuh. Teman menjauh, guru bersikap hati-hati, dan orang tuaku, mereka berusaha kuat, tapi aku tahu mereka takut. Aku jadi merasa seperti bom waktu. Bahkan diriku sendiri tak bisa kupercaya. Berbulan-bulan aku menjalani terapi, menelan pil-pil yang rasanya seperti pengingat bahwa aku berbeda.
Namun satu hari, saat sedang dirawat di bangsal jiwa, aku bertemu 'Bu Fatma' seorang psikolog yang memperlakukanku bukan sebagai pasien, tapi sebagai manusia. Dia bilang, “Kamu bukan skizofrenia. Kamu Ummi. Penyakit itu hanya bagian kecil dari dirimu.”
Kalimat itu membangkitkanku. Untuk pertama kalinya, aku merasa dilihat bukan sebagai masalah, tapi sebagai pribadi.
Pelan-pelan, aku belajar mengenali diriku sendiri. Aku mulai menulis,menuangkan suara-suara di kepala menjadi puisi. Aku rekam diriku membacanya dan mengunggahnya ke media sosial. Tak kusangka, banyak yang merasa terinspirasi. Mereka yang merasa sendiri, merasa tak dimengerti, mulai menghubungiku. Ternyata, aku tidak sendiri.
Lima tahun kemudian, aku berdiri di atas panggung. Bukan sebagai korban, tapi sebagai pembicara. Aku bicara tentang skizofrenia, tentang pentingnya kesehatan jiwa, tentang harapan. Di hadapanku, ratusan wajah mendengarkan, beberapa menangis, beberapa tersenyum penuh haru.
“Aku bukan gila. Aku hanya berbeda. Dan perbedaan bukan alasan untuk menyerah.”
Tepuk tangan bergemuruh. Saat itu, aku tahu: aku telah menang. Bukan dari skizofrenia, tapi dari ketakutan dan stigma yang dulu membelengguku.
Dan kini, jika ada anak yang merasa sendiri, yang dihantui suara-suara yang tak dimengerti orang lain, aku ingin menjadi suara bagi mereka. Karena aku tahu, harapan selalu ada, bahkan dalam kepala yang paling sunyi.
Setelah bertahun-tahun mengisi seminar, menulis buku, dan menjadi suara bagi mereka yang terdiam karena penyakit mental, hidupku terasa lebih bermakna. Tapi aku tahu, ada satu ruang yang masih kosong: cinta.
Aku tak pernah berani membayangkan cinta sejati datang padaku. Siapa yang mau mencintai seseorang dengan masa lalu sepertiku? Dengan luka-luka yang kadang masih berdarah dalam sunyi?
Lalu datanglah Fahri.
Kami bertemu dalam sebuah acara pelatihan relawan kesehatan mental. Ia duduk di barisan depan, mencatat dengan serius. Seusai acara, dia menghampiriku. “Terima kasih sudah berbagi. Kakak tidak tahu berapa banyak orang yang merasa hidup kembali karena keberanianmu.”
Aku tersenyum, menunduk malu. Tapi ada sesuatu dalam suaranya yang terasa berbeda tulus, hangat, dan tidak menghakimi.
Sejak hari itu, Fahri jadi sering menghubungiku. Awalnya bicara soal program kerja, lalu lama-lama tentang mimpi, luka, dan bahkan soal ketakutan yang kami simpan rapat. Fahri tak lari saat aku cerita soal masa-masa gelapku, tentang malam-malam penuh bisikan yang membuatku ingin menghilang. Dia hanya menggenggam tanganku dan berkata, “Aku tidak akan pergi, mi. Kita semua hancur dalam cara kita masing-masing. Tapi bukan berarti kita tak pantas dicintai.”
Air mataku tumpah saat itu juga. Bukan karena sedih, tapi karena untuk pertama kalinya, aku merasa diterima sepenuhnya.
Kami menjalin hubungan dengan pelan. Fahri sabar, dan aku belajar mempercayai. Ketika aku mengalami relaps ringan, dia tetap di sana, menceritakan hal lucu, menyeduh teh, dan memelukku dalam diam.
Empat tahun setelah pertemuan pertama kami, di tengah taman yang pernah jadi tempat pelatihan pertama itu, Fahri melamarku.
“Aku tahu kamu kuat sendiri. Tapi bolehkah aku jadi orang yang berjalan bersamamu?”
Aku mengangguk sambil menangis, kali ini karena bahagia.
•••
Kini, aku berdiri mengenakan gaun sederhana dan hiasan di rambutku. Para tamu berdiri, bertepuk tangan. Di sebelahku, Fahri tersenyum. Kami bukan pasangan sempurna. Tapi kami saling mencintai dalam kekurangan, dan itu cukup.
Aku masih 'Ummi' yang pernah jatuh, yang pernah dihantui skizofrenia. Tapi aku juga Umi yang bangkit, menyembuhkan, dan kini bahagia.
Dan jika dulu suara-suara di kepalaku berkata aku tak layak dicintai. hari ini, aku buktikan: mereka salah.
Epilog: Dalam Pelukan yang Sama
Pernikahan kami berjalan indah di awal. Penuh tawa, kesabaran, dan rencana-rencana kecil tentang rumah yang ingin kami bangun. Tapi hidup bukan dongeng yang selesai di pelaminan.
Dua tahun setelah menikah, badai itu datang.
Tekanan pekerjaan, rasa lelah yang menumpuk, dan ketakutan bahwa aku tak cukup “normal” untuk jadi istri yang baik membuat pikiranku kembali diselimuti kabut. Bisikan-bisikan lama mulai hadir. Aku menjadi mudah tersinggung, menangis tanpa sebab, dan menolak disentuh. Malam-malamku dipenuhi mimpi buruk.
Hingga suatu malam, aku mendorong Fahri dan menjerit, “Kamu pantas dapat istri yang sehat! Kenapa kamu masih di sini?!”
Fahri tetap diam. Wajahnya tak marah, tapi luka karena doronganku membuatnya jatuh mengenai sudut meja.
Hari-hari setelah itu kami tak banyak bicara. Aku mengira ia akan pergi. Bahkan, dalam ketakutanku, aku sempat mengajukan kata yang dulu kuanggap tabu: 'Cerai.'
Tapi Fahri, seperti biasanya, memilih duduk di sisiku, menggenggam tanganku yang gemetar.
“Ummi,” katanya pelan, “aku menikah denganmu bukan karena kamu selalu kuat. Tapi karena aku ingin jadi kuat bersamamu. Kita nggak sempurna, tapi kita bisa belajar saling melengkapi.”
Aku pecah saat itu juga. Semua perasaan hancur dan hangat menjadi satu dalam pelukannya.
Kami kembali ke psikolog. Aku mulai terapi lagi, dan kali ini, Fahri ikut. Ia belajar memahami gejala-gejala kambuhku, belajar bagaimana menenangkan saat aku terpicu. Dan aku... aku belajar bahwa menerima bantuan bukan kelemahan, tapi kekuatan.
Setahun kemudian, kami mendapat hadiah yang tak pernah kami duga: aku hamil.
Kehamilan bukan hal mudah bagiku. Perubahan hormon membuat pikiranku kacau, dan aku sempat takut akan mencelakai bayiku sendiri. Tapi Fahri dan keluargaku kini jadi sistem pendukung yang luar biasa. Ibu mertuaku sering datang membawa makanan dan cerita lucu. Orang tuaku mulai terbuka dan bahkan ikut komunitas keluarga dengan anak penderita skizofrenia.
Saat anak kami lahir, tangisnya mengisi ruang bersalin. Aku menangis bersamanya, bukan karena takut, tapi karena aku tahu: aku berhasil sampai sejauh ini.
Kami menamainya Safa, yang berarti ketenangan.
Hari ini, aku duduk di taman bersama Fahri dan Safa. Ia berlari kecil mengejar kupu-kupu, tertawa tanpa beban. Fahri memelukku dari samping, dan aku bersandar di bahunya.
“Aku takut dulu,” bisikku. “Takut nggak bisa jadi ibu yang baik.”
“Kamu bukan hanya jadi ibu yang baik,” katanya. “Kamu jadi inspirasi buat banyak orang. Termasuk aku.”
Dan saat itu, aku tahu dalam semua kegilaan dunia, dalam suara-suara yang dulu menakutiku, dalam jatuh bangun perjuangan kami,aku telah menemukan rumah.
Bukan karena semuanya sempurna, tapi karena kami memilih untuk tetap bersama. Dalam sakit, dalam sembuh, dalam cinta yang setiap hari kami perjuangkan.
Dan begitulah… hidup kami berjalan. Tidak selalu mudah. Tapi penuh cinta dan kehangatan.
TAMAT

Komentar
Posting Komentar