Welas Asih



☆Original Cerpen By Yunia Haida☆


Namaku Asih.

Mama yang memilihkan nama itu, katanya agar aku tumbuh menjadi perempuan yang hatinya penuh kasih. Tapi tak pernah kubayangkan, aku justru harus menjalani makna nama itu dalam bentuk yang paling sepi, menjadi satu-satunya anak yang tetap tinggal saat semua memilih pergi.


Aku anak bungsu dari tujuh bersaudara. Namun saat Mama jatuh sakit, hanya aku yang benar-benar hadir. Bukan karena aku paling mampu, tapi karena aku tak punya tempat lain untuk pulang. Yang lain... terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang baru menikah, ada yang sibuk mengurus anak, ada yang katanya hidup pas-pasan. Semua punya alasan, dan semua alasan itu membuat mereka merasa cukup untuk absen.

“Maaf, anakku masih kecil.”
“Suamiku belum gajian.”
“Aku juga pusing urus rumah tangga.”

Itu kalimat-kalimat yang jadi lagu lama di grup WhatsApp keluarga. Lama-lama tak ada yang membalas. Hanya pesan-pesan sunyi yang kubagikan, berharap ada yang tergugah. Tapi nyatanya tidak ada.

Padahal, Mama semakin lemah dari hari ke hari.


---

Satu malam, hujan turun deras saat Mama menggigil hebat. Napasnya sesak, tubuhnya dingin. Aku panik. Dengan jaket tipis dan motor pinjaman tetangga, aku bonceng Mama ke rumah sakit. Di IGD, tubuh Mama masih basah oleh hujan, dan aku menggigil bukan karena dingin, tapi karena takut—takut kehilangan.

Sendiri, aku menunggui Mama sambil menahan tangis. Kukirim pesan ke saudara-saudaraku. Tak ada yang datang. Tak ada yang membalas. Hanya tanda baca biru tanpa suara.

Mama akhirnya membuka mata. Menatapku lemah, namun penuh kasih.

“Asih…” panggilnya lirih.

Aku mendekat, menggenggam tangannya yang dingin.

“Ma, maafin Asih ya. Cuma bisa begini. Asih belum bisa bahagiain Mama...”

Mama tersenyum tipis. “Asih… kamu itu bukan cuma anak bungsu. Kamu hadiah paling indah yang Allah kasih ke Mama.”

Air mataku tumpah.

Lalu dengan sisa tenaganya, Mama berkata pelan, “Kamu yang paling kaya, Nak…”

Aku mengerutkan dahi. “Kaya? Asih nggak punya apa-apa, Ma…”

Mama tersenyum, dan dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia menjawab:

“...kaya hati, kaya kasih sayang, kaya kesabaran. Itu harta yang tak semua anak Mama punya.”

Hatiku runtuh. Malam itu, di antara tangis dan isak, aku sadar: aku tak akan pernah menyesal memilih tinggal, meski tak punya apa-apa selain cinta.


---

Setelah Mama meninggal, rumah ini benar-benar sepi. Pakaian Mama masih tergantung di gantungan bambu. Aroma minyak kayu putih masih tersisa di bantalnya. Tapi yang paling kurindukan... adalah suara lembut yang memanggil namaku: Asih.

Saudaraku datang saat pemakaman, membawa bunga dan air mata yang cepat mengering. Lalu pulang. Tak satu pun yang bertanya bagaimana keadaanku. Tak satu pun yang tinggal sejenak untuk membereskan kamar Mama bersamaku. Aku sendirian lagi. Tapi kali ini aku sudah siap.

Aku duduk di kursi rotan usang di pojok kamar Mama. Di atas meja kecil, Al-Qur’an Mama masih terbuka. Halaman itu menampilkan ayat yang selalu ia baca:

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku pada waktu kecil.”
(QS. Al-Isra: 24)


Aku menyentuh halaman itu dengan jemariku yang gemetar. Lalu tersenyum lirih. Sebab aku tahu... doanya masih tinggal di sini. Di setiap sudut rumah. Di setiap detak jantungku.

Dan meskipun aku tak lagi punya siapa-siapa, aku tetap punya satu hal: kenangan dan keberkahan dari bakti yang tak pernah pamrih.

Namaku Asih.
Dan aku memilih untuk tetap welas asih, meski dunia memaksaku untuk berhenti peduli.




Epilog – Ketika Nama Menjadi Doa

Beberapa bulan telah berlalu sejak Mama pergi.

Rumah ini tetap sunyi. Tak ada lagi suara batuk lirih, atau panggilan lembut yang menyebut namaku dari dapur. Tapi justru dalam sunyi itulah aku sering mendengar gema kenangan,
tawa Mama, doa Mama, dan sabarnya yang tak pernah menyalahkan anak-anaknya, bahkan saat mereka lupa pulang.

Kadang aku duduk di beranda, memandangi langit sore yang berubah jingga, dan bertanya dalam hati, “Apa Mama bahagia di sana?”

Lalu angin berhembus lembut, seperti pelukannya yang tak sempat lagi kupeluk.

Kini, setiap kali ada tetangga yang datang dan berkata,
“Asih... kamu anak yang luar biasa. Ibumu pasti bangga,”
aku hanya tersenyum dan menjawab pelan,
“Asih hanya menjalankan namanya, Bu...”

Welas asih bukan sekadar nama yang diwariskan Mama,
tapi juga jalan hidup yang kutempuh meski sendiri.
Dan ternyata, saat dunia berpaling, kasih yang tulus akan tetap tinggal.
Karena sejauh apapun anak-anak melangkah,
yang paling dikenang oleh langit.
bukan siapa yang sukses, tetapi siapa yang tulus.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Pendidikan Bagi Wanita

Menapaki Jalan Ayah