Senyumku yang Berharga


☆Original Cerpen Karya Yunia Haida☆

 

Namaku Gino. Aku dilahirkan dengan bibir sumbing yang membuatku merasa berbeda sejak kecil. Setiap kali aku bercermin, aku melihat luka yang membuatku takut. Aku selalu menutupi mulutku saat tersenyum. Anak-anak lain seringkali mengejekku, membuat hatiku sakit.

Di sekolah dasar, aku selalu duduk di bangku paling belakang. Aku takut maju ke depan kelas karena khawatir mereka akan mentertawakanku. Kadang, aku cuma bisa mendengarkan dari jauh, merunduk agar tak menarik perhatian.

“Eh, Gino… bibirmu tuh kenapa sih?” tanya Dika, teman sekelasku, sambil menatap bibirku dengan jijik.

Aku hanya diam, tak sanggup menjawab.

“Lihat tuh, mulutnya bolong! Ih, serem banget,” seru Rani, sambil menutup hidungnya seolah-olah aku kotor.

Aku menunduk, air mata menetes. Rasanya ingin sekali berlari pulang.

***

Sepulang sekolah, aku menangis di pelukan ibuku. “Ibu… kenapa aku begini? Aku nggak mau ke sekolah lagi…”

Ibuku mengusap kepalaku lembut. “Nak, kamu tahu? Senyummu itu yang paling berharga. Mungkin bibirmu terlihat berbeda, tapi hatimu tidak. Ibu percaya suatu hari kamu akan menemukan cara untuk membuat orang lain melihat betapa berharganya senyum itu.”

Tapi saat itu, kata-kata Ibu seperti angin lalu. Aku masih takut. Masih malu.

Waktu berlalu, dan aku harus menjalani operasi bibir sumbing saat kelas 7 SMP. Rasanya sakit, tapi setelah operasi itu, aku merasa ada harapan baru. Suaraku juga perlahan jadi lebih jelas. Tapi rasa canggungku belum hilang. Setiap kali harus bicara di depan orang banyak, aku masih sering gemetar.

Suatu hari, teman-temanku yang iseng mendaftarkanku ke lomba stand-up comedy di sekolah. “Gino, kamu kan suka bikin kita ketawa. Coba deh!” kata Raka, teman dekatku.

“Aduh, nggak mau. Suaraku aneh, nanti diketawain,” protesku.

“Justru itu, Gin! Kita kan pengen ketawa bareng. Kamu tuh lucu. Percaya deh,” bujuk Raka lagi.

Akhirnya, dengan takut-takut, aku berdiri di atas panggung kecil itu. Tangan gemetar, suaraku bergetar, tapi aku mulai bercerita—tentang masa kecilku yang diejek “si bibir robek”, tentang rasa malu yang selalu kupendam, dan tentang bagaimana aku belajar berdamai dengan senyumku sendiri.

“Waktu itu, teman-teman manggil aku ‘bibir robek’, tapi sekarang… ya ampun, malah jadi ciri khas. Untungnya nggak ada yang manggil aku ‘bibir cinta’, bisa ribet urusannya,” candaku di atas panggung.

Tawa penonton meledak. Rasanya hangat. Aku merasa ringan. Tawa yang dulu kutakuti, kini jadi musik yang menenangkan.

Aku menang lomba itu. Tapi yang lebih penting, aku menang atas rasa takutku sendiri.

***

Lulus SMA, aku semakin berani naik panggung. Dari kafe ke kafe, ke kompetisi stand-up comedy kota, hingga akhirnya diundang ke acara televisi nasional. Namaku mulai dikenal—bukan sebagai anak dengan bibir sumbing, tapi sebagai Gino si Komika yang tulus dan menghibur.

Kini aku berdiri di hadapan ratusan orang, bercerita sambil tersenyum lebar. Bibirku mungkin tak sempurna, tapi senyumku tulus. Aku tak lagi malu. Aku tahu sekarang, senyum ini meski dulu kusembunyikan adalah senyumku yang berharga. Dan itu yang membuatku berbeda, sekaligus istimewa.

Setelah namaku mulai dikenal sebagai komika, hidupku berubah drastis. Aku mendapat banyak undangan tampil di berbagai acara, dari kafe kecil sampai televisi nasional. Tapi di balik tawa penonton, aku sadar perjuangan sebenarnya baru dimulai.

Suatu hari, aku diundang tampil di sebuah acara talkshow besar. Sebelum naik panggung, aku duduk di ruang tunggu, menatap tangan yang sedikit berkeringat.

“Apa aku siap?” pikirku.

Tiba-tiba, aku teringat masa kecilku saat Ardi dan teman-teman lain mengejekku. Aku menutup mata dan berbisik dalam hati, “Gino, kamu sudah melewati semua itu. Sekarang waktumu untuk bersinar.”

Aku melangkah ke panggung dengan percaya diri. Mikrofon di tangan, aku mulai bercerita dengan gayaku yang santai.

“Dulu, aku pernah jadi bahan tertawaan. Bibirku yang sumbing itu bikin aku sering dikucilkan. Tapi aku belajar satu hal—kalau kamu bisa menertawakan dirimu sendiri, orang lain akan ikut tertawa bersama, bukan menertawakanmu,” kataku.

Penonton tertawa dan memberi tepuk tangan meriah. Rasanya hangat sampai ke hati.

Setelah acara, banyak orang yang mendatangiku. Ada yang bilang, “Gino, cerita kamu bikin aku bangkit dari rasa minderku.” Ada juga yang bilang, “Aku nggak pernah tahu perjuangan seseorang di balik senyum itu.”

Aku merasa bahagia sekaligus tersentuh. Ternyata, kisahku bukan hanya untukku. Kisah itu bisa jadi inspirasi bagi orang lain yang merasa berbeda.

***

Lambat laun, aku mulai mengisi seminar motivasi untuk anak-anak dengan kondisi fisik seperti aku. Aku berbagi cerita, mengajak mereka untuk percaya diri dan berani bermimpi. Aku selalu mengingatkan mereka dengan kata-kata ini:

“Perbedaan bukanlah kelemahan, tapi kekuatan yang membuatmu unik. Jangan pernah takut menunjukkan senyummu kepada dunia.”

Di panggung yang berbeda, aku pernah berkata,

“Jangan biarkan kata-kata negatif membungkam suaramu. Suaramu penting, ceritamu berharga, dan senyummu adalah kekuatan.”

Kini, aku bukan hanya seorang komika, tapi juga pembawa pesan bahwa setiap luka bisa menjadi kekuatan. Senyumku yang dulu kusembunyikan, kini jadi jembatan untuk menyebarkan keberanian dan cinta.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Pendidikan Bagi Wanita

Menapaki Jalan Ayah

Welas Asih