Hari - Hari Terakhir Ayah


 ☆Original Cerpen Karya Yunia Haida☆


Semua bermula dari keluhan sakit kepala yang sering datang tiba-tiba. Awalnya, ayah hanya bilang kepalanya pusing, tapi masih tetap memaksakan diri bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Hingga suatu pagi, ayah terjatuh di kamar mandi. Kami segera membawanya ke rumah sakit. Dokter menyatakan ayah terkena stroke akibat komplikasi darah tinggi.


Sejak itu, hidup kami berubah. Ayah harus berbaring di ranjang, separuh tubuhnya lumpuh, dan bicaranya mulai sulit. Meski begitu, semangatnya tak pernah padam. Dengan sisa tenaga, ia tetap berusaha tersenyum saat kami menemaninya. Setiap pagi, ayah meminta duduk di kursi rotan favoritnya di teras, menatap langit lama-lama sambil menggenggam tasbih.


Hari-hari itu menjadi pelajaran kesabaran. 

Ibu tak pernah lelah merawat ayah, membersihkan tubuhnya, menyuapi makan, membetulkan bantal agar ayah lebih nyaman. Aku dan saudaraku bergantian memijat tangan dan kakinya yang kaku. Ayah tetap berusaha berucap, meski suaranya pelan dan patah-patah. Ia selalu mengingatkan kami untuk tetap salat, saling menyayangi, saling membantu.


Namun suatu malam, kondisi ayah tiba-tiba menurun. Nafasnya mulai berat, matanya sayu. Kami segera membawanya ke rumah sakit. Dokter berkata, “Ayah kalian harus dirawat intensif.” Dua hari penuh kami berjaga di sisinya, menunggu dan berdoa tanpa henti.


Di malam kedua, dokter memanggil kami semua ke ruang perawatan. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Jika ada yang ingin disampaikan, sekarang waktunya,” katanya pelan.


Di dalam ruangan itu, ayah membuka matanya perlahan. Meski sangat lemah, ia berusaha bicara. Suaranya lirih, terputus-putus, tapi cukup jelas. “Nak… jaga ibu… jaga adik… kalian… harus… saling sayang… rukun… damai… jangan… saling jauh…”


Kami semua menangis. Kami menggenggam tangannya erat. Ibu membisikkan kalimat syahadat di telinganya. Kami menuntun bersama-sama, “La ilaha illallah… La ilaha illallah…”


Perlahan, nafas ayah semakin pelan… dan akhirnya terhenti dengan tenang. Senyum kecil masih menghiasi bibirnya.


Kami menangis, tapi hati kami ikhlas. Kami tahu, ayah sudah berjuang sekuat tenaga. Kami melepasnya dengan doa dan rasa syukur, 

karena ayah telah pulang dalam keadaan husnul khatimah.


***


Warisan Kebaikan Ayah


Setelah malam itu, rumah terasa lebih sunyi. Tak ada lagi suara batuk pelan ayah, atau derik kursi rotan yang bergoyang pelan saat ia duduk. Namun anehnya, kepergiannya justru meninggalkan jejak yang hangat.

Hari-hari berlalu, kami mulai menyadari betapa banyak kebaikan kecil yang ayah tinggalkan. Suatu pagi, seorang pelancong datang mengetuk pintu. “Apakah ini rumah Pak Budiman?” tanyanya. Ibu mengangguk pelan. Dengan mata berkaca-kaca, pria itu bercerita, “Beberapa bulan lalu, saya kehabisan uang di jalan. Ayah kalian memberiku makan, bahkan memberi ongkos agar aku bisa pulang. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.”

Kami terdiam. Kami baru tahu cerita itu. Rupanya ayah diam-diam sering membantu orang yang lewat di jalan depan rumah, yang terlihat lapar atau kelelahan. Tak peduli siapa mereka, ayah selalu punya alasan untuk menolong.


Tak lama dilain hari, seseorang datang membawa kantong plastik berisi baju bekas yang rapi. “Ini baju dari ayahmu. Waktu itu beliau bilang, 'Mungkin kamu atau keluargamu butuh, jangan sungkan.'” kata orang itu. Aku teringat lemari tua ayah yang makin kosong beberapa tahun terakhir. Rupanya, satu per satu pakaian ayah sudah ia salurkan diam-diam ke mereka yang membutuhkan.

Yang paling membuat kami terharu adalah saat seorang pemuda datang sambil membawa beberapa ekor ayam. “Ayah kalian dulu memberiku sepasang ayam. Katanya, 'Rawatlah, nanti kalau sudah banyak, kamu bisa jual kalau butuh uang.' Berkat ayam itu, sekarang aku bisa punya usaha kecil-kecilan.” katanya bangga.

Kami menatap ayam-ayam itu dengan hati penuh haru. Ayah tak pernah banyak bicara soal kebaikan, tapi ia selalu bertindak. Tak peduli betapa kecilnya, ia percaya semua kebaikan akan bertumbuh jika dilakukan dengan ikhlas.


Hari itu, kami duduk di teras rumah, di kursi rotan peninggalan ayah. Saling diam, tapi mengerti. Kepergian ayah mengajarkan satu hal penting: hidup bukan soal berapa lama kita tinggal, tapi berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan.

Karena kebaikan sekecil apapun, jika ditanam dengan tulus, akan berbuah besar, bahkan setelah kita tak lagi ada di dunia.


Waktu terus berjalan, namun setiap sudut rumah masih terasa dipenuhi jejak ayah. Kursi rotan itu tetap kami biarkan di teras, seolah menunggu ayah duduk kembali. Setiap kali kami melihatnya, kami teringat wajahnya yang selalu tersenyum damai.

Kepergian ayah bukanlah akhir. Ia hanya berpindah tempat, meninggalkan dunia tapi mewariskan kebaikan yang tak pernah habis. Setiap kebaikan kecil yang dulu ia tanam, kini bersemi dalam hidup kami, menjadi pengingat, menjadi warisan yang tak ternilai.


Tamat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Pendidikan Bagi Wanita

Menapaki Jalan Ayah

Welas Asih