Di Balik Layar Retak
☆Original Cerpen Karya Yunia Haida☆
"Dalam keterbatasan, kita menemukan kekuatan untuk mengubah hal yang tak mungkin menjadi mungkin."
Di sebuah SMA yang mengedepankan teknologi, Ranti selalu merasa sedikit terpinggirkan. Setiap siswa di sekolah itu memiliki smartphone canggih, laptop dan akses tanpa batas ke berbagai aplikasi untuk memudahkan mereka belajar.
di sisi lain,Ranti hanya memiliki satu ponsel second pemberian ayahnya yang sudah usang. Layar ponsel itu sudah retak dan seringkali terasa lambat, namun itu adalah satu-satunya barang berharga yang dimilikinya, pemberian ayahnya yang bekerja sebagai pedagang asongan di terminal. Ayahnya menabung berbulan-bulan hanya untuk membelikan ponsel itu, agar Ranti tak tertinggal pelajaran digital di sekolah.
Pagi itu, seperti biasa, Ranti berjalan dengan langkah ringan menuju sekolah. Ponsel tua itu ada di dalam tasnya, dan dia berusaha tidak terlalu memikirkan pandangan teman-temannya. Namun, begitu sampai di kelas. Zaskia, siswi kaya berpenampilan glamor yang terkenal di sekolah langsung menghampirinya
“Duh, itu HP atau kaca spion pecah?” ejek Zaskia. “Nggak malu, Ran? Di sekolah sekeren ini, kamu pakai HP kayak begitu?”
Beberapa temannya tertawa, meski ada juga yang hanya menunduk, merasa tidak nyaman.
Ranti menghela napas, tak berniat membalas.
“Yang penting masih bisa buat belajar,” jawabnya pelan.
Zaskia menyeringai. “Belajar? Yakin belajar? Kayaknya lebih sering dipake nunggu loading ketimbang baca materi.”
Tawa kembali pecah.
***
Setiap malam, Ranti menatap layar ponsel retaknya sambil mengakses situs belajar dan video pembelajaran gratis.
Sementara Zaskia sibuk membuat Trend video TikTok dan Flexing gaya hidupnya yang mewah.
Saat Ranti sibuk mencatat dan merekam materi.
Ayahnya masuk ke kamarnya yang kecil itu sambil membawa segelas teh hangat.
“Ranti, kamu nggak capek, Nak?” tanya ayahnya suatu malam.
“Capek, Yah. Tapi aku lebih takut gagal,” jawab Ranti. “Aku harus bisa masuk kuliah negeri. Aku nggak mau jadi beban Ayah selamanya.”
Ayahnya menatap mata Ranti penuh haru. “Ayah bangga kamu pakai HP itu untuk belajar. HP sebagus apapun nggak akan menentukan masa depan kalau isinya cuma gaya-gayaan.”
***
Ujian sekolah semakin dekat. Ranti tetap tekun belajar. Suatu hari, Zaskia memamerkan ponsel barunya di kelas sambil tertawa-tawa dengan teman-temannya.
“Halo semua, aku baru unboxing iPhone terbaru. Liat dong, kameranya cakep banget buat konten!” katanya bangga sambil menyalakan kameranya.
Namun hari itu guru mengumumkan bahwa sekolah akan mengadakan seleksi beasiswa prestasi untuk masuk universitas favorit.
Zaskia berkata sinis, “Udah lah, beasiswa cuma buat pencitraan. Siapa sih yang mau kuliah kalau nggak bisa gaya?”
Ranti hanya tersenyum. Dalam hatinya, ia berbisik: “Yang ingin mengubah nasib akan selalu mencari cara, bukan alasan.”
***
Waktu pun berlalu.
Hari pengumuman seleksi pun tiba. Ranti berdiri gemetar, membuka laman pengumuman lewat ponsel retaknya. Matanya membulat. Namanya tertera di urutan pertama sebagai penerima beasiswa ke Universitas Negeri terbaik di Jakarta.
Kelas menjadi heboh. Beberapa teman yang dulu menertawakannya kini mendekat.
“Ranti… kamu lolos?” tanya salah satunya.
“Iya. Dari ponsel retak ini, aku belajar tiap malam,” jawab Ranti mantap.
Zaskia mendekat, wajahnya tampak terpukul. “Kamu bener-bener serius belajar ya, Ran?”
Ranti menatap Zaskia. “Iya." Karena aku tahu, hidupku harus berubah. Aku nggak punya kemewahan seperti kamu, tapi aku punya impian yang besar.”
Zaskia terdiam, wajahnya tak secerah biasanya. seakan tersadar dari semua kesombongannya yang selama ini dia tunjukkan.
***
Beberapa minggu kemudian, Ranti dipanggil maju memberikan motivasi dalam acara upacara sekolah. Ia berdiri di atas panggung sederhana, memegang ponsel tuanya.
“Teman-teman, ponsel ini pernah jadi bahan olok-olokan. Tapi justru dari sinilah aku belajar. Aku hanya ingin bilang satu hal…”
Ia menarik napas dan berkata dengan suara penuh keyakinan:
“Bukan seberapa canggih alatmu, tapi seberapa besar usahamu. Ponsel secanggih apapun tak akan menuntunmu ke masa depan, jika tidak kau arahkan ke arah yang benar.”
Tepuk tangan pun bergemuruh.
Dan di tengah kerumunan, Zaskia menatap dari kejauhan. diam, terpukul, dan mungkin baru mulai mengerti arti sesungguhnya dari perjuangan.
***
-Epilog-
Beberapa tahun kemudian, Ranti duduk di bangku taman kampus, mengenakan jas almamater universitas impiannya. Ponsel retak yang dulu menjadi saksi perjuangannya kini disimpannya rapi di laci meja kos. Bukan karena ia malu, tapi karena benda itu mengingatkannya pada asal perjuangan.
Ranti membuktikan bahwa meskipun dia hanya memiliki ponsel yang layarnya retak, dengan tekad dan kerja keras, dia bisa meraih impian yang besar.
《Sepenggal Kata Penulis》
Cerita ini saya tulis sebagai pengingat bahwa kita semua memiliki jalan yang berbeda dalam meraih impian. Tidak semua orang lahir dalam kemudahan, tapi semua orang memiliki kesempatan untuk berjuang. Dalam keterbatasan, kita bisa menemukan kekuatan. Dalam olok-olok, kita bisa menemukan keberanian.
Jangan pernah meremehkan apa yang kamu miliki hari ini, sekecil dan sesederhana apapun itu. Mungkin justru dari sanalah kesuksesanmu akan tumbuh. Karena sesungguhnya, bukan apa yang ada di tanganmu yang paling menentukan, tapi apa yang ada di dalam dirimu.
Tetap semangat dan jangan pernah berhenti percaya pada dirimu sendiri.
♥️Yunia Haida

Komentar
Posting Komentar