Piala Bergilir
☆Cerpen Remaja Karya Yunia Haida☆
Namaku Viona. Aku duduk di kelas XI IPA di SMA Utama. Kata orang, aku punya "paket lengkap": pintar, aktif organisasi, ramah, dan... cantik. Bahkan beberapa guru sering bilang, “Viona itu calon pemimpin masa depan.” Tapi dibalik semua pujian itu, aku tahu satu hal: popularitas bukan hanya nikmat. Ia juga cobaan.
Sejak awal kelas X, aku sudah dilirik banyak siswa laki-laki. Beberapa terang-terangan menyatakan suka, yang lain memilih diam dan memperlihatkan perhatian berlebihan. Tapi satu hal yang pasti: mereka semua ingin menjadikanku pacar, bukan pasangan halal.
Sementara aku punya prinsip yang tak bisa dinego: "aku tidak pacaran!."
“Kenapa sih Viona? Cantik-cantik kok nggak mau pacaran?”
“Bosen banget kali hidup lo, kayak ustazah.”
“Lo tuh kayak piala, Vio. Yang paling atas, semua pengen dapet. Sayang banget lo nyia-nyiain kesempatan.”
Aku hanya tersenyum. Bagiku, menjaga diri bukan pilihan, tapi kewajiban. Aku ingin menjadi perempuan yang layak dijemput dengan akad, bukan direngkuh dengan rayuan.
Dion adalah yang pertama mencoba “memenangkanku.” Ia anak futsal, wajahnya tampan, followers-nya banyak. Tiap pagi, dia sengaja menyapaku, menawarkan minuman, bahkan pernah memberiku hadiah ulang tahun walau aku tak mengundangnya.
“Aku tahu kamu beda, Vi. Makanya aku serius,” katanya.
Tapi ketika kutolak dengan halus, Dion berubah dingin. Beberapa hari kemudian, ia menggandeng teman sekelasku.
Setelah Dion, ada Arga yang pendekatannya lewat diskusi pelajaran, Rangga yang mengaku ingin belajar agama bersamaku, lalu Anwar yang memakai alasan organisasi.
Motif mereka serupa: memenangkan Viona, bukan mengenal Viona.
***
Hingga suatu siang, saat aku hendak mengambil sepatu di rak masjid, aku mendengar mereka bercanda:
“Vio itu kayak piala bergilir, Bro. Siapa pun yang bisa dapetin dia, auto jadi paling jago.”
“Yoi. Lo liat Dion aja, gagal, Arga nyaris. Anwar sekarang ngejar juga. Seru, kan?”
“Yang penting, foto dulu. Biar bisa pamer ke circle.”
Aku terdiam. Tenggorokanku tercekat. Air mata menggenang, tapi kutahan. Beginikah harga diriku di mata mereka.
Aku menghindari kantin. Menghapus akun media sosialku. Menolak semua ajakan kumpul. Beberapa teman mulai bertanya-tanya, tapi hanya Sherin, sahabatku sejak SMP, yang tahu semuanya.
“Vio, jangan biarin mereka matiin sinar kamu. Kamu tetap perempuan hebat, bahkan saat memilih diam.”
Tapi diam bukan berarti tak sakit. Ada malam-malam ketika aku menangis sendiri, bertanya pada Allah: “Kenapa aku harus diuji dengan ini? Kenapa mereka tak bisa melihat niatku untuk menjaga diri?”
Namun dari tangisan itu, aku menemukan kekuatan baru. Aku mulai rajin membaca tafsir, memperdalam makna hijab, dan menemukan ketenangan bahwa menjaga diri bukan hanya tentang menolak pacaran, tapi juga tentang membentengi hati dari rasa ingin diakui.
***
Sherin selalu ada untukku, hingga sebuah kejutan datang. Suatu hari, aku melihat chat Sherin dan Rangga. Mereka intens. Ramah. Mesra.
Hatiku berdesir. Bukan karena aku menyukai Rangga, tapi karena aku merasa terkhianati.
Namun Sherin mendahuluiku.
“Vio, aku nggak pernah berniat nyakitin kamu. Tapi Rangga bilang dia berubah. Dia pengin serius. Aku pun nggak langsung percaya. Tapi… aku juga nggak mau membohongi perasaan.”
Aku diam. Lalu berkata, “Kalau dia memang ingin serius, ajak kamu ke orang tuamu. Bukan ke bioskop, bukan dipasang ke story WA.”
Sherin terdiam. Lalu menangis.
Hari itu aku belajar, bahkan yang paling dekat pun bisa diuji dengan cinta. Tapi bukan berarti kita harus membenci.
***
Hari kelulusan datang. Semua sibuk berfoto, menangis, tertawa. Aku memilih duduk di mushola, menulis surat pada diriku sendiri:
"Viona, kamu tidak gagal hanya karena tak dipilih. Kamu justru menang, karena tak menyerahkan harga dirimu untuk kesenangan sesaat. Kelak, kamu akan menemukan seseorang yang tidak ingin kamu jadi pacarnya, tapi istrinya. Bersabarlah.”
Sore itu, aku pamit dari sekolah dengan tenang. Bukan sebagai “Viona si cantik,” tapi sebagai Viona yang terjaga.
****
Aku kuliah di luar kota. Menjadi penggerak komunitas muslimah kampus. Menulis buku kecil berjudul Menjaga Diri di Zaman Pamer Cinta.
Buku itu viral di kalangan pelajar dan remaja putri. Banyak yang mengirim pesan, berkata bahwa mereka merasa dikuatkan.
Lalu suatu hari, seseorang menulis di email:
“Assalamu’alaikum, Viona. Saya membaca tulisan-tulisanmu dan belajar banyak. Saya tidak datang untuk memujimu, tapi untuk meminta izin mengenalmu lebih dalam dengan cara yang Allah ridho'i.”
Air mataku jatuh. Doaku didengar. Tapi lebih dari itu, aku bersyukur… karena aku tidak pernah menjadi piala bergilir.
---
☆☆☆
Menjaga diri dari pacaran bukan kelemahan, tapi bentuk penghormatan terhadap diri dan Allah. Jangan biarkan dirimu jadi hadiah untuk siapa pun yang belum halal. Perempuan bukan trofi ia amanah yang hanya bisa dijaga oleh laki-laki yang juga menjaga dirinya.

Komentar
Posting Komentar